Site icon IGN News

Adopsi Teknologi Raja Ampat, DKP Kepri Luncurkan SIKAWAN LAMUN untuk Jaga Pesisir Bintan

Adopsi Teknologi Raja Ampat, DKP Kepri Luncurkan SIKAWAN LAMUN untuk Jaga Pesisir Bintan.F-Istimewa

IGNNewa.id, Bintan – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Indonesia (KI) resmi memulai langkah baru dalam menjaga kelestarian pesisir. Melalui “Pelatihan dan Penguatan Sistem Monitoring Ekosistem Lamun Berbasis Geo-tagging”, para penjaga laut di Bintan kini dibekali teknologi digital mutakhir.

Kegiatan yang berlangsung di Agro Hotel Bintan pada 20–22 April 2026 ini menyasar peningkatan kapasitas Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di wilayah Taman Wisata Perairan (TWP) Timur Pulau Bintan.

Kepala DKP Provinsi Kepri, Dr. Said Sudrajad, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa menjaga ekosistem adalah tanggung jawab lintas generasi. Ia berharap pembekalan ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan lingkungan maritim Kepri.

“Kami ingin hasil pelatihan ini tidak berhenti di sini. Harus ada sharing knowledge kepada generasi selanjutnya agar kelestarian laut kita tetap terjaga melalui sistem yang lebih terukur,” ujar Said Sudrajad, Senin (20/4/2026).

SIKAWAN LAMUN: Efisiensi Data Real-Time
Terobosan utama dalam pelatihan ini adalah pengenalan aplikasi SIKAWAN LAMUN (Sistem Kawal Lamun oleh Pokmaswas) yang berbasis Survey123. Sistem ini menggantikan cara konvensional yang cenderung lambat dan manual.

Hanggar Prasetio dari tim Konservasi Indonesia menjelaskan bahwa sistem ini mengadopsi keberhasilan program “Jaga Laut” di Raja Ampat. Dengan fitur geo-tagging, data koordinat, cuaca, hingga dokumentasi kondisi lamun langsung terintegrasi ke dalam dashboard pusat secara real-time.

“Dulu alurnya panjang, dari mencatat di logsheet hingga input manual ke sistem. Sekarang, semua bisa dilakukan lewat ponsel. Data jauh lebih akurat dan efisien,” jelas Hanggar.

Mitigasi Ancaman dan Penentuan Titik Pantau
Selain teknologi, peserta juga dibekali kemampuan menentukan titik pantau strategis berdasarkan enam aspek, mulai dari kesehatan ekosistem hingga aksesibilitas. Fokus pengawasan diarahkan pada sejumlah ancaman nyata di perairan Bintan, seperti limbah domestik, tumpahan minyak, hingga dampak aktivitas reklamasi.

Sejumlah Pokmaswas di Bintan turut serta dalam agenda ini, antara lain Pokmaswas Srikandi (Berakit), Dugong (Pengudang), Camar Laut (Malang Rapat), Usat Berkumis (Teluk Bakau), Perisai (Mapur), dan Bintang Laut (Mantang Baru).

Dengan implementasi SIKAWAN LAMUN, data kondisi pesisir di Bintan diharapkan menjadi lebih valid sebagai dasar pengambilan kebijakan konservasi di masa depan.

Exit mobile version