IGNNews.id, Batam – Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, turun langsung meninjau lokasi kebakaran hutan lindung di kawasan strategis Waduk Nongsa, Jumat (27/3/2026). Peninjauan ini dilakukan guna memastikan proses pendinginan berjalan optimal dan memetakan luasan dampak kerusakan lingkungan.
Berdasarkan pantauan udara menggunakan drone, total luas hutan lindung yang hangus terbakar diestimasi mencapai 3,85 hektare. Kebakaran ini dilaporkan pertama kali muncul pada Kamis (26/3) sore dan sempat dinyatakan padam tengah malam sebelum akhirnya api kembali menyala pada Jumat pagi.
Tantangan Lahan Gambut dan Angin Kencang
Ariastuty menjelaskan bahwa karakteristik lahan di kawasan Waduk Nongsa menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam gabungan dari BP Batam, Pemko Batam, TNI-Polri, hingga Manggala Agni.
“Daerah ini sangat rentan karena banyak ranting kering dan merupakan lahan gambut. Meskipun api di permukaan sudah padam, sekam di dalam tanah masih menyimpan panas yang bisa memicu api kembali menyebar saat tertiup angin kencang,” jelas Ariastuty di lokasi peninjauan.
Larangan Keras Memanfaatkan Lahan Terbakar
Selain upaya pemadaman, Ariastuty mengeluarkan peringatan tegas kepada oknum-oknum yang mencoba memanfaatkan situasi. Ia menegaskan bahwa masyarakat dilarang keras menduduki atau memanfaatkan lahan bekas terbakar untuk kepentingan pribadi.
“Pemanfaatan lahan secara ilegal adalah pelanggaran hukum berat. Kami akan menindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku bagi siapa pun yang mencoba menyerobot lahan hutan lindung ini,” tegasnya.
Masyarakat Sebagai Perpanjangan Tangan Pemerintah
BP Batam mengajak masyarakat untuk menjadi mitra dalam pengawasan lingkungan. Warga diimbau untuk menghindari tindakan sepele yang berdampak fatal, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area hutan kering atau membakar sampah tanpa pengawasan.
“Kami meminta masyarakat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dan kepolisian. Segera laporkan jika melihat oknum yang sengaja maupun tidak sengaja membakar hutan. Kerja sama kita adalah kunci menjaga kelestarian daerah tangkapan air di Batam,” pungkas Ariastuty.

