IGNNews.id,Tanjungpinang-Dalam mengenal sejarah dalam pemerintahan kerajaan silam tentu butuh informasi yang memiliki makna yang dapat dihayati bagi wisatawan, Kepala Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Kota Tanjungpinang, Ivan Kurniawan sedikit memberikan cerita kisah tentang Cogan atau religia dengan usia ratusan tahun silam.
Cogan adalah salah satu alat kebesaran yang dimiliki kerajaan Johor-Lingga dan Pahang yang kemudian diwarisi oleh Kerajaan Riau Lingga.
Pada masa pemerintahan kerajaan Cogan adalah religia atau alat kebesaran yang sangat penting dalam setiap penasaran atau pelantikan seorang Sultan, berfungsi sebagai alat kebesaran raja dan simbol legitimasi seorang sultan pada masa tersebut.
Pada masa religia ini disimpan oleh Engku Putri Raja Hamidah permaisuri Sultan Mahmud di pulau Penyengat.
Sangat pentingnya kedudukan Cogan sebagai simbol Legitimasi antara lain dapat dibuktikan dalam sebuah peristiwa perebutan tahta antara Tengku Husain yang di bela Inggris dan Tengku Abdul Rahman yang didukung Belanda pada tahun 1891-1822.
Kedudukannya sebagai salah satu legitimasi Sultan pada masa itu mendorong pihak Belanda untuk merebutnya dari tangan Engku Putri Raja Hamidah pada bulan Oktober 1822 yang bertujuan sebagai siasat untuk meruntuhkan kerjaan dan Kesultanan Riau untuk menyempurnakan penguasaan atas tanah Melayu pada masa tersebut.
Terus ia juga mengatakan, dalam wujud aslinya, Cogan terbuat dari perpaduan emas dan perak yang bertahtakan permata merah, bahan utamanya adalah lempengan emas yang menyerupai daun sirih dan dihiasi inskripsi dalam bahasa melayu menggunakan huruf arab melayu yang berbunyi
‘Hu Hu Bismillah at Rahman ar rahim’, bahwa inilah Raja yang keturunan dari bukit siguntang asalnya dari baginda Sri Sultan Iskandar Zulkarnain iyalah Raja yang adil lagi berdaulat yang mempunyai tahta kerajaan serta kebesaran dan kemulian kepada segala negeri yang di dalam daerah tanah melayu dengan kurnia Tuhan. ‘Rabbu’arsil’azmi atasnya di kekalkan Allah Subhanahu wa-ta’ala’ di atas tahta kerajaannya di tambahi allah pangkatnya yang kesabarannya serta darajat yang kemuliaan di dalam daulat ‘sa’adat’alallah sama khalidallah malikahu wa-sultanahu wa-ihsanahu bijati an-nabiyi syaid-almusrsalin wa’ala alihi wasyahbihi ajma’in amin allahumma amin’.
Setelah penghapusan Kerajaan Riau, Johor, Lingga dan Pahang, Cogan bersama sejumlah alat kebesaran lainnya disita oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian dikirim ke Batavia untuk disimpan pada museum Batavia Asch Genootschap. Dan saat kemerdekaan Indonesia Cogan kemudian menjadi koleksi Museum Nasional.
Cogan yang berada di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah merupakan replika Ketiga yang di buat berdasarkan aslinya. Cogan yang ada disini merupakan replika ketiga, untuk yang asli disimpan di museum nasional dan tidak di pajang karena sudah mulai termakan usia jadi disimpan dan yang di pajang di museum nasional juga adalah replika nya. (Fr)

