Site icon IGN News

Kebiasaan Kecil yang Menentukan Kualitas Bangsa

Rifdah Tsabita

Oleh: Rifdah Tsabita
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI
Program Studi: Akuntansi Syariah

Di ruang tunggu, di kereta, di kafe, pemandangan yang paling lazim hari ini adalah kepala-kepala yang menunduk menatap layar. Kita membaca, pesan singkat, judul berita, unggahan media sosial. Namun membaca dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menyelami gagasan yang utuh dari halaman pertama hingga terakhir, semakin jarang kita lakukan. Padahal, budaya membaca buku adalah salah satu penanda paling jujur tentang seberapa serius sebuah masyarakat memperlakukan pikirannya sendiri.

Masalahnya bukan bahwa kita kekurangan bacaan. Justru sebaliknya, kita tenggelam dalam informasi. Yang menipis adalah kemampuan bertahan pada satu gagasan yang panjang dan berlapis. Membaca potongan-potongan pendek melatih otak untuk berpindah dengan cepat, tetapi tidak untuk menalar dengan sabar.

Buku menuntut hal yang berbeda. Ia meminta perhatian penuh, memaksa kita mengikuti argumen dari awal hingga akhir, dan memberi ruang bagi kita untuk berdialog dengan penulisnya. Dari proses inilah lahir daya pikir kritis: kemampuan menimbang, membandingkan, dan tidak mudah percaya pada kesimpulan yang serba instan. Di tengah banjir hoaks dan opini yang dangkal, kemampuan ini adalah benteng yang tidak bisa diunduh secara instan.

Persoalan rendahnya minat baca di Indonesia sudah lama menjadi bahan perbincangan. Berbagai survei internasional, termasuk asesmen literasi siswa seperti PISA, berulang kali menempatkan kemampuan literasi kita pada posisi yang belum menggembirakan. Angka-angka itu memang perlu dibaca dengan hati-hati, sebab metodologi dan konteksnya berbeda-beda. Tetapi arah pesannya konsisten: ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas.

Kita juga perlu adil dalam menilai. Rendahnya budaya baca bukan semata-mata kemalasan. Akses terhadap buku masih timpang. Di banyak daerah, toko buku nyaris tidak ada, perpustakaan sekolah miskin koleksi, dan harga buku terasa mahal bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan. Menyalahkan individu tanpa membenahi ketersediaan bacaan sama saja dengan menyuruh orang berenang tanpa menyediakan air.

Kebiasaan membaca tidak tumbuh lewat perintah, melainkan lewat keteladanan. Anak yang tumbuh di rumah dengan rak buku dan orang tua yang gemar membaca cenderung memandang buku sebagai bagian wajar dari hidup. Sebaliknya, anak yang hanya diperintah “ayo baca!” oleh orang tua yang sendiri tidak pernah memegang buku akan menangkap pesan yang berlawanan.

Sekolah punya peran besar, tetapi sering terjebak pada pendekatan yang keliru. Membaca dijadikan kewajiban yang diikuti tugas meringkas dan ujian, sehingga buku terasa seperti beban, bukan hhiburan. Padahal, cinta membaca lebih sering tumbuh dari kesenangan: cerita yang memikat, kebebasan memilih bacaan, dan guru yang menularkan antusiasme, bukan sekadar menagih laporan.

Perpustakaan semestinya menjadi jantung budaya baca, bukan gudang sunyi yang jarang dikunjungi. Perpustakaan yang hidup adalah yang ramah, koleksinya segar, dan ruangnya nyaman untuk berlama-lama. Di sisi lain, kita patut mengapresiasi tumbuhnya taman baca masyarakat, lapak baca gratis, dan komunitas pegiat literasi di berbagai daerah. Gerakan-gerakan akar rumput ini membuktikan bahwa budaya membaca bisa tumbuh dari inisiatif warga, tanpa menunggu program besar dari atas.

Teknologi pun tidak selalu menjadi musuh. Buku digital, buku audio, dan platform pinjam baca daring dapat menjangkau mereka yang jauh dari toko buku. Yang penting adalah tujuannya: bukan sekadar memindahkan halaman ke layar, melainkan menjaga kebiasaan membaca yang mendalam.

Membangun budaya baca tidak harus dimulai dengan target muluk. Cukup sepuluh halaman sehari, atau lima belas menit sebelum tidur tanpa gawai di tangan. Kebiasaan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada semangat besar yang padam dalam seminggu. Pilih buku yang benar-benar menarik bagi kita, bukan yang sekadar terlihat pintar dibaca. Dari situ, kebiasaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Exit mobile version