Oleh:IGN
Para orang tua masa kini diharapkan dapat berpikir secara lebih realistis dan tidak lagi terlalu memaksakan kehendak pribadi maupun keinginan lama kepada anak-anak mereka.
Bagi Generasi Z, pelaksanaan berbagai upacara adat atau kemewahan dalam perayaan pernikahan bukan lagi hal yang dianggap wajib atau utama.
Bagi mereka, yang jauh lebih berharga adalah keberadaan pernikahan itu sendiri sebagai sebuah ikatan dan lembaga yang suci.
Pergeseran pandangan ini terlihat jelas dari hasil berbagai survei yang dilakukan di Indonesia.
Generasi muda kini memandang persiapan pernikahan dengan sikap yang jauh lebih bijak dan rasional.
Mereka cenderung menolak pesta yang berlebihan atau mewah, dan lebih memilih menggunakan dana yang ada untuk menjamin kestabilan ekonomi serta masa depan rumah tangga mereka.
Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 13% dari Generasi Z yang masih berkeinginan mengadakan pesta pernikahan yang megah dan meriah.
Meski tidak terlalu mementingkan kemewahan pesta, hal ini sama sekali tidak berarti mereka meremehkan pernikahan.
Sebanyak 81% dari mereka tetap menganggap lembaga pernikahan itu sendiri sebagai sesuatu yang sangat berharga, sakral, dan penting untuk dijalani.
Namun, di balik pandangan yang positif itu, ada pertimbangan mendalam yang membuat mereka berhati-hati.
Masalah biaya yang besar serta keinginan untuk benar-benar matang secara mental membuat sekitar 55% hingga 63% Generasi Z memilih untuk menunda waktu pernikahannya, hingga mereka merasa siap sepenuhnya membangun kehidupan bersama.

