IGNNews.id, Anambas – Keselamatan pasien menjadi alasan utama manajemen RSUD Tarempa mengambil langkah tegas membebastugaskan seorang dokter umum berinisial Ev yang diduga mengalami depresi berat hingga menunjukkan perilaku emosional yang tidak stabil. Dokter Ev telah dibebastugaskan sejak 1,5 tahun lalu.
Direktur RSUD Tarempa, Rini Gumalasari, menyatakan bahwa kondisi mental dokter Ev dinilai dapat membahayakan pasien jika tetap dibiarkan bertugas.
“Kondisi beliau sedang tidak baik. Kami tidak bisa menunggu sampai ada kejadian fatal. Ini rumah sakit, bukan tempat untuk coba-coba dengan nyawa orang,” tegas Rini, Jumat (10/10).
Rini menjelaskan, gejala depresi pada dokter yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini terlihat sejak lama, mulai dari sering terlambat, tampak murung, hingga emosi yang meledak-ledak.
Berdasarkan Rekomendasi IDI dan Koordinasi BKPSDM
Keputusan pembebastugasan ini telah dikoordinasikan dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta Inspektorat Kabupaten Kepulauan Anambas.
Inspektur Pemkab Anambas, Yunizar, membenarkan langkah tersebut dan menambahkan bahwa keputusan ini juga didasarkan pada rekomendasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
“Itu rekomendasi dari IDI. Mereka menilai dokter Ev sudah tidak layak untuk bertugas karena kondisi kejiwaannya. Kalau tetap dibiarkan, bisa berisiko bagi pasien,” jelas Yunizar.
Pihak RSUD Tarempa menyatakan siap memberikan dukungan pemulihan agar dokter muda yang tergolong berprestasi ini dapat kembali bekerja. “Kami hanya berharap beliau bisa diobati dan kembali seperti sedia kala,” tutur Rini.
Kasus ini menjadi peringatan bahwa tekanan mental dapat menyerang siapa saja, termasuk tenaga medis yang memegang tanggung jawab besar terhadap nyawa manusia.

