IGNNews.id, Batam – Kualitas penguasaan bahasa Inggris pelajar sekolah menengah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah menjadi sorotan tajam. Data terbaru Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 mengungkapkan fakta pahit: nilai rata-rata bahasa Inggris pelajar Kepri hanya menyentuh angka 26,85, jauh tertinggal dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 37,43.
Anggota Komisi IV DPRD Kepri, Ririn Warsiti, menyebut capaian tersebut sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan di Bumi Bunda Tanah Melayu. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai rapor, melainkan “tiket” utama bagi pelajar untuk mengakses pendidikan tinggi dan beasiswa di tingkat global.
“Kita terlalu lama mengajarkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran, bukan sebagai keterampilan komunikasi,” tegas Ririn di Batam, Selasa (10/2/2026).
Faktor Penyebab: Teori vs Praktik
Ririn mengidentifikasi sejumlah kendala yang menyebabkan anjloknya performa pelajar Kepri. Beberapa faktor utamanya antara lain:
-
Metode Pembelajaran: Masih terlalu berorientasi pada teori dan hafalan grammar ketimbang komunikasi aktif.
-
Kualitas Pengajar: Keterbatasan kualitas serta distribusi guru bahasa Inggris yang belum merata ke seluruh daerah.
-
Minim Paparan: Rendahnya interaksi menggunakan bahasa Inggris di lingkungan sekolah maupun sosial, sehingga siswa sulit berkembang secara alami.
Risiko Tertinggal di Kancah Global
Politisi yang membidangi sektor pendidikan ini memperingatkan bahwa jika hal ini dibiarkan, pelajar Kepri akan sulit bersaing di dunia kerja maupun seleksi perguruan tinggi bergengsi yang mensyaratkan standar kemampuan bahasa tertentu.
“Tanpa perbaikan serius, Kepri berisiko tertinggal dalam menyiapkan SDM yang mampu bersaing. Pemerintah daerah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari kompetensi guru hingga penerapan metode belajar yang lebih komunikatif,” tambahnya.
Komisi IV DPRD Kepri pun mendorong Dinas Pendidikan untuk menguatkan program-program pendukung di sekolah agar bahasa Inggris bisa menjadi budaya komunikasi, bukan sekadar momok bagi siswa saat ujian.

