Tradisi Nyuloh Menjadi Kebanggaan Natuna Setiap Festival Budaya

Tradisi Nyuloh Menjadi Kebanggaan Natuna Setiap Festival Budaya.F-Istimewa
banner 120x600

Ignnews.id, Natuna – Dikala waktu menjelang sore hari, para orang tua mulai sibuk menyiapkan apa saja yang akan digunakan untuk Nyuloh dengan membawa sejumlah peralatan diantaranya ember, parang dan tombak (singgap), dan alat penerangan yaitu lampu petromak.

Memasuki waktu gelap malam, cahaya terang mulai terlihat menyinari gelap gempita suasana laut yang hening dari kebisingan kota. Cahaya terang benderang satu persatu mulai berjalan dari pinggiran pantai.

Sesekali suara langkah sepatu para pembawa lampu petromak terdengar hingga puluhan meter, dan suara percakapan bahasa melayu pun terdengar dikala mereka sedang mendapatkan hasil buruannya di dekat terumbu karang.

Tidak sedikit hasil yang didapatkan dikala menyusuri sepanjang jalan, mulai dari bibir pantai hingga ketempat terumbu karang yang tidak ikut surut air laut. Setiap genangan air laut tidak sedikit mahluk laut yang terjebak dalam situasi pasang surutnya air laut.

Di saat menjelang waktu persediaan bahan bakar penerangan mulai menipis, para pembawa petromak memberikan aba-aba untuk segera mengambil langkah putar balik kebibir pantai.

Tradisi Nyuloh adalah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Natuna pada saat air laut sedang surut, karena untuk menyuloh atau biasa juga disebut berkarang masyarakat hanya berjalan kaki dari bibir pantai menyusuri laut yang dangkal. Sehingga Nyuloh dan Bekarang hanya bisa dilakukan ketika air laut sedang surut.

Tradisi Nyuloh ini merupakan aktivitas yang dilakukan orang tua dulu untuk mencari ikan, cumi-cumi, kepiting dan hewan lainnya di laut untuk dijadikan lauk pauk.

Di kehidupan modern sekarang ini tradisi Nyuloh tidak hanya dilakukan oleh orang tua, namun juga diminati para kaula muda, baik pria maupun wanita ikut serta untuk Nyuloh.

Selain untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, namun ada rasa kepuasaan tersendiri ketika menapaki kaki dilaut dan menyaksikan berbagai biota laut, seperi kerang, gurita, cumi dan sebagainya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, masyarakat sudah beralih menggunakan lampu senter yang dipasang dikepala sebagai sumber penerangan. Daya tahannya lebih lama dibanding lampu petromak dan lebih ringan untuk dibawa.

Sekarang ini tradisi Nyuloh telah menjadi salah satu karya budaya yang selalu ditampilkan setiap ada pergelaran pentas seni dan budaya yang diadakan pemerintah kabupaten Natuna.

Selain mengenalkan tradisi yang diwariskan nenek moyang dalam mencari lauk untuk makan sekaligus menikmati keindahan biota laut disaat malam hari.

Pemerintah kabupaten Natuna saat ini, berupaya untuk memperkenalkan tradisi Nyuloh yang menjadi kebanggaan masyarakat Natuna ke mancanegara dan menjadikannya sebagai warisan budaya.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, Hadisun, saat peringatan Hari Jadi kabupaten Natuna ke 26 tahun di lapangan pantai piwang, kota Ranai kecamatan Bunguran Timur. Minggu (12/10/2025).

“tradisi Nyuloh, selalu ditampilkan setiap kali ada acara perayaan festival maupun acara kenegaraan seperti HUT Kemerdekaan, peringatan hari jadi provinsi hingga kabupaten,” ucapnya.

Dikatakannya, saat ini tradisi Nyuloh telah masuk dalam lima karya budaya asal Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh pemerintah.

“Alhamdulillah di momen peringatan hari jadi kabupaten Natuna ke 26 ini, kita berhasil mempersembahkan seluruh karya budaya tersebut kepada masyarakat Natuna,” pungkasnya. Laporan (Hardiansyah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *