Cegah Kepunahan Sastra Lisan Pulau Penyengat, Tim Peneliti UMRAH Gelar Kajian Mendalam

Tim peneliti dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar kajian mendalam terkait kearifan lokal dalam tradisi sastra lisan masyarakat Melayu di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang.F-Istimewa
banner 120x600

IGNNews.id, Tanjungpinang — Tim peneliti dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar kajian mendalam terkait kearifan lokal dalam tradisi sastra lisan masyarakat Melayu di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang.

Langkah ilmiah ini diambil guna menyelamatkan warisan tutur leluhur yang terancam tergerus arus modernisasi dan digitalisasi.

Dosen peneliti FKIP UMRAH, Mulia Wiwin, menuturkan bahwa Pulau Penyengat memiliki posisi historis yang sangat kuat sebagai bekas pusat Kesultanan Riau-Lingga sekaligus rahim lahirnya karya legendaris Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

Kendati menyimpan kekayaan tuturan seperti pantun, syair, hikayat, hingga mitos lokal, penguasaannya saat ini kian menyusut dan hanya bertumpu pada generasi tua.

Dalam riset yang turut melibatkan akademisi M Yunus, Zaitun, Musliha, dan Robby Patria ini, tim menegaskan bahwa sastra lisan bukan sekadar sarana hiburan.

Setiap tuturan tradisional mengandung muatan nilai religius, moral, gotong royong, penghormatan adat, hingga falsafah harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam sekitar.

Tim peneliti menyoroti masih terbatasnya kajian khusus yang menelaah fungsi sosial-budaya tradisi tutur di Penyengat.

Hasil pendokumentasian ini diharapkan tidak hanya memperkaya literasi akademik, melainkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai pijakan kebijakan pariwisata berbasis kearifan lokal serta sumber bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah.

Melalui dokumentasi dan analisis komprehensif ini, para akademisi UMRAH optimistis identitas kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat tetap terjaga keberlanjutannya.

Upaya penyelamatan aset takbenda ini diharapkan mampu membentengi generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya di tengah derasnya penetrasi budaya populer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *