IGNNews.id, Anambas – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Anambas mengambil langkah strategis menjadi pelopor untuk menyatukan nelayan antar desa. Upaya ini dilakukan demi menciptakan persepsi yang sama dalam melaut, mengurangi potensi konflik, dan menjaga keharmonisan di daerah kepulauan tersebut.
Selama ini, nelayan Anambas kerap dihadapkan pada persoalan internal, seperti konflik batas wilayah tangkapan dan penggunaan alat penangkapan ikan yang dilarang. Perselisihan sering terjadi karena adanya aturan tidak tertulis yang melarang nelayan luar desa menangkap ikan di wilayah tertentu.
Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu, menegaskan bahwa konflik ini harus segera diselesaikan.
“Konflik seperti ini harus diselesaikan dengan duduk bersama. Karena nelayan yang melaut itu semuanya adalah nelayan asal Anambas, bukan orang luar. Jadi, jangan sampai kita sesama saudara sendiri saling bermusuhan,” tegas Raja Bayu.
Anambas Lumbung Ikan: Kunci di Kekompakan
Raja Bayu menekankan bahwa kekompakan di kalangan nelayan adalah kunci. Jika nelayan bersatu, potensi perikanan Anambas yang ia sebut sebagai “lumbung ikan” bagi Kepulauan Riau dan Sumatera bisa meningkat maksimal.
“Seharusnya nelayan kita kompak untuk meningkatkan kualitas dan hasil produksi perikanan. Kalau kita bersatu, semua akan merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Teguran Keras DKP soal Alat Tangkap
Sejalan dengan upaya kekompakan, Pemkab Anambas juga terus menekankan pentingnya menjaga kelestarian laut melalui penegakan aturan alat tangkap ikan.
Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri di Anambas, Amriansyah Amir, mengingatkan nelayan agar tidak menggunakan alat tangkap yang dilarang, seperti pukat hela, pukat tarik, bom ikan, dan racun sianida.
“Alat tangkap seperti pukat hela, pukat tarik, bom ikan, dan racun sianida itu jelas dilarang. Selain merusak terumbu karang, alat itu juga mengancam keberlangsungan populasi ikan di laut kita,” tegas Amriansyah.
Ia menambahkan, pemerintah tidak akan segan menindak tegas pelanggar. Amriansyah mengajak nelayan beralih ke alat tangkap ramah lingkungan seperti bubu dan jaring insang, serta memastikan pemerintah siap membantu nelayan untuk mendapatkan pelatihan dan bantuan alat yang sesuai aturan.
Raja Bayu menutup dengan harapan bahwa dengan laut yang terjaga dan nelayan yang bersatu, “Anambas tidak hanya kaya ikan, tapi juga kaya akan kebersamaan.”













